Pemuda Pukul Tiga
Dalam cenung, aku mulai menulis, ditemani secangkir imaji dan nafsu fikiran jasad ini. Aroma malam ini sama saja seperti malam sebelumnya, udara mengering seiring hati ini sendiri. Tanpa kopi Wak Solong , aku tetap terjaga mengawasi malam, ya... aku tengah bersiap tempur melawan ksatria dr kampung seberang yang bernama Rindu, konon kerajaannya hanya tampak pada pukul 3 dini hari.
Di persimpangan jalan hati ini, aku selalu memasang siaga satu, cemas akan pertahanan bentengku ini. Ia yang selalu hadir di sepertiga malam. memecahkan dimensi ruang rindu antara kami.
Tepat pukul 00.00 WIB, terdengar sahutan ayam berkokok dari arah barat kampungku, mereka saling memanggil satu sama lain, tanpa henti2, dan semakin ramai, mengalahkan suara hiruk pikuk jalanan pada malam minggu. inikah pertanda Rindu akan datang?
Tapi ini belum pukul 3.
Rabu, Januari 08, 2014
|
Label:
Cerita mini
|
-
Pesan Penutup Cerita5 tahun yang lalu
-
Sahabat Lama6 tahun yang lalu
-
2 QASIDA 1 KICAU BUL-BUL8 tahun yang lalu
-
Amsal Kau dan Aku10 tahun yang lalu
-
Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi11 tahun yang lalu
-
Ritus Menghakimi11 tahun yang lalu
-
0 komentar:
Posting Komentar