Perempuan Bulan
Perempuan Bulan
Di Mana Bulan?
Aku mencari-cari pada hamparan ladang angkasa, hanya biduk yang terlihat. Lantas, kemana rembulanku? Atau hanya aku yang merasa kehilangan? Seluruh warga harusnya cemas dengan Bulan yang tak lagi tampak.
Semenjak Bulan meninggalkan kampung ini. Kami merasakan gelap sepanjang malam. Aku paling bersedih. Warga kampung sempat bersedih tapi dapat kuhitung berapa detik lamanya. Aku terus menunggu Bulan. Orang-orang kampung sering melihat kebiasaanku mencari Bulan jika malam tiba.
”Bulan tak akan datang, apa yang kau tunggu? Teriak perempuan tambun di balik pohon.
”Tidak, dia pasti akan kembali. Tau apa kalian dengan Bulanku?” Jawabku kesal.
”Dasar perempuan aneh, sudah dua tahun kau menunggu bukan? Ia tidak akan kembali, pulanglah” Balasnya sambil terkekeh dan meninggalkanku.
“Tidak, dia pasti akan datang” yakinku dalam hati.
Aku melanjutkan mengelilingi kampung, mencari Bulan.
Aku terus mencari sesekali memandangi langit mungkin ia sudah kembali. Malam begitu membosankan tanpa Bulan. Perihal kehilangan Bulan aku sudah berkali-kali melaporkannya ke ketua RT. Tapi…
“Kampung ini telah kehilangan Bulan, tidakkah Bapak sebagai ketua RT bertindak sesuatu” tanyaku pada lelaki tua yang sedang duduk santai di hadapanku.
“Apa yang harus kulakukan?” jawabnya dengan tenang sembari menyeduh kopi pahitnya.
“Tolonglah, tidak ingatkah apa yang Bulan telah lakukan untuk kampung ini? Kampung ini terang berkat Bulan. Pikirkan itu lagi. Semua warga cemas kehilangan Bulan” nada suaraku semakin meninggi.
“Tapi, hanya kau yang mengadu padaku. Warga lain tidak merasa cemas.” bibir hitamnya mulai menghisap cerutu.
“Sudahlah, percuma aku datang, aku sendiri yang akan mencari Bulan”
Bulan adalah ibuku. Wanita yang sering menghibur warga dengan suara dan parasnya yang cantik. Kampung itu selalu bercahaya jika malam tiba. Tapi, kini ia pergi meninggalkan kampung. Kabar tetanggaku ia pergi bersama lelaki kaya raya dan meninggalkanku seorang diri saat aku terlelap. Semenjak itu, bulan tak pernah tampak lagi, malam seperti biasa, gelap sunyi, tak ada yang menarik dan aku tetap menunggunya; dalam gelap sekalipun. Ibu.
Jumat, Februari 28, 2014
|
Label:
Cerita mini
|
-
Pesan Penutup Cerita5 tahun yang lalu
-
Sahabat Lama6 tahun yang lalu
-
2 QASIDA 1 KICAU BUL-BUL8 tahun yang lalu
-
Amsal Kau dan Aku10 tahun yang lalu
-
Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi11 tahun yang lalu
-
Ritus Menghakimi11 tahun yang lalu
-
0 komentar:
Posting Komentar