Perihal cermin

Berdasarkan cerita leluhur. Makhluk halus atau ruh yang baru saja berpisah dari jasadnya sangat senang pada benda yang bernama cermin. Setiap ruh itu menyempatkan waktunya berjalan-jalan menyusuri rumah demi rumah untuk mendapatkan cermin. Di depan cermin, mereka melihat air mukanya yang terus berubah saban waktu. Celakanya, aku lupa membalikkan cerminku.

Embun mulai hilang terbakar matahari. Aku harus bergegas ke upacara pemakaman hari ini. Usai mandi aku berganti pakaian dan duduk di depan meja rias. Kusisir rambutku yang lurus dan hitam. Aku diam seketika, bayanganku tak tampak di cermin itu. Kupegangi wajahku yang putih dan mulus. Tak ada bayangan. Kemana wajahku? Cermin ini? 

continue..

Lien, 12 Februari 2014



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Nan Lon Lina Sundana!