Perihal Diana

20 nov 2013

Sayang, maafkan aku pulang larut malam ini. Aku tak tega membiarkan Diana jalan sendirian, terlebih lagi dia yang buta akan jalan pada malam hari. Kau tau? Aku sebenarnya takut akan jalanan. Entah mengapa, semakin takut, laju kecepatan hondaku semakin menanjak tajam. Aku yang pura-pura kuat dan berani. Tak ada yang tau, tak juga kau, Sayang. kecuali Tuhanku.

Aku membiarkan angin-angin malam menampar pipiku. Aku memakai jaket abu-abu menjaga suhu tubuhku agar tetap hangat. Kata ibuku, suhu tubuhku dari kecil selalu hangat, berbeda dengan suhu normal orang lainnya. Mengapa? Entahlah, ibuku pun tak tahu perihal suhu itu.


Diana sempat turun dari honda beberapa kali, kami tak tahu arah jalan sebenarnya, terlebih lagi malam hari. Kami kembali menuju jalanan, meraba-raba tepi dan median jalan yang menyeramkan bagiku. Aku sempat bersenandung mengucapkan asma Allah beberapa kali, selebihnya menikmati pemandangan kota yang ramai sekali. Alamat yang kami tuju tak kunjung ditemukan. Aku mulai lelah memegang stir honda. Aku meminta Diana untuk bertanya pada penjual gorengan di tepi jalan sembari membeli beberapa untukku. Pemilik gorengan tak segan-segan memberi tahu, tapi entah apa salah Diana ini, selalu saja membuatku bingung. Kami tetap saja harus bertanya di persimpangan berikutnya. 

Kali ini dengan lelaki paruh baya, berkulit hitam, rambutnya mulai memutih dan menggunakan singlet putih. Aku sendiri yang mendengar panduan jalan, ia meminta kami untuk berbalik arah dan berjalan sejauh 20 meter. Apakah ia tahu 20 meter itu sejauh mana? Aku menerka-nerka, lebih dari seratus meter jauhnya, baru kami berhasil menemukan rumah sakit yang kami cari.





0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Nan Lon Lina Sundana!