Tsunami in Memoriam II
Kemarin, aku melintasi jalan raya Teuku Arief. Kupehatikan seorang Ibu sedang membantu anaknya menaikkan sepeda kecil beroda tiga menyebrang median jalan. Aku berjalan lagi... Aku berhenti di salah satu warung kopi. Aku membeli beberapa kue risol, bingkang, kue lapis, pulot. Aku perhatikan seorang Ayah dan bocah laki-lakinya sedang duduk berhadapan, Sang Ayah menuangkan susu cokelat ke piring kecil yang digunakan sebagai alas gelas dan anaknya menyeruput pelan dari pinggiran gelas tadi. Aku meninggalakan mereka dan terus berjalan pulang.
Kudapati sebuah pintu besar, masuk dan hanya ada ruangan kosong.
Aku keluar dan kembali berjalan. Kali ini beerbeda, tak ada toko yang terbuka, tak ada Ibu dan Anak yang biasa berjalan di tepi jalan. Kemana mereka? Kulihat langit yang begitu mendung, ingatanku kembali teringat sejuta memori sembilan tahun yang silam. Mereka sekarang tenang di alam sana. Gempa bumi dan ombak laut telah mengambil mereka.
26 Desember 2013
Rabu, Januari 08, 2014
|
Label:
Alkisah
|
-
Pesan Penutup Cerita5 tahun yang lalu
-
Sahabat Lama6 tahun yang lalu
-
2 QASIDA 1 KICAU BUL-BUL8 tahun yang lalu
-
Amsal Kau dan Aku10 tahun yang lalu
-
Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi11 tahun yang lalu
-
Ritus Menghakimi11 tahun yang lalu
-
0 komentar:
Posting Komentar