Pipi Tembem
Pipinya yang temben; sangat menggemaskan, membuat tangan-tangan nakal tak pernah bosan untuk mencubitnya. Tak terkecuali denganku.Saat mamanya berpaling, aku mencuri-curi untuk mengapit pipi itu dengan kedua capitku. Seketika langsung memerah dan aku memalingkan wajah; sibuk dengan buku bacaan. Ibunya melihat ke arah pipi itu "kenapa merah begini, nak? sepertinya digigit nyamuk ya, waduh bisa marah ni abinya sama umi" wanita itu langsung mengambil minyak kayu putih dan mengusapnya perlahan pada pipi yang menggemaskan itu.
Bocah cilik itu mempunyai mata bulat hitam yang tak kalah mengemaskan dengan pipinya. Aku mengikuti arah pandangannya. Bibirnya yang tebal tampak komat-kamit seperti berbicara dengan seseorang. Pandangannya memandang ke arah udara yang kosong, kepalanya mengangguk-angguk. apa sebenarnya yang sedang dilihat dan dibicarakannya? Bibir tebalnya tampak tertarik membentuk garis, lagi-lagi melemparkan senyuman ke arah udara kosong, tak ada siapapun di depannya. aku terus memerhatikannya dari sudut kejauhan.[]
"12 Maret 2014"
Lien
Rabu, Maret 12, 2014
|
Label:
Cerita mini
|
-
Pesan Penutup Cerita5 tahun yang lalu
-
Sahabat Lama6 tahun yang lalu
-
2 QASIDA 1 KICAU BUL-BUL8 tahun yang lalu
-
Amsal Kau dan Aku10 tahun yang lalu
-
Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi11 tahun yang lalu
-
Ritus Menghakimi11 tahun yang lalu
-

0 komentar:
Posting Komentar