Perihal Mak


oleh Lina Sundana

Kening Mak Aisyah berlumuran keringat. Kipas angin yang menyala tak berpengaruh apapun pada ruangan yang sempit ini. Ruangan berukuran 3x4 itu dihuni oleh dua pasien, salah satunya Mak Aisyah.

Lelaki dengan pakaiannya serba putih datang membawa secarik kertas dan pena di tangannya. "Ada keluhan apa bu malam ini?" tanya sembari melemparkan senyum paksa. "Saket tat ulee lon" Mak Aisyah mengurut-urut kepalanya yang sakit. Lelaki itu hanya mencatat. "Ada keluhan di perut atau lainnya?" tanyanya hanya menatap Emak. "Ni.. dek, infusnya udah mau habis, tadi katanya sampai naik darah" jawab Kak Ismi yang datang berkunjung. "Baik Bu, sebentar lagi kami bawa infus yang baru, tolong turunkan sebentar yang merah jambu pada tali infus" kata perempuan yang dari tadi hanua berbisik saja di belakang lelaki tadi. "Yang mana ya?" Kak Ismi kebingungan. "Itu.. tuunkan saja" perempuan itu mengulangi lagi. "iya.. iya.." Mereka pergi saling berbisik. Entahlah.

Kak Ismi memperhatikan kepala Emak yang mereng, bantalnya sudah bergeser jauh. "Ka mangat mak lon pegot bantai lage nyoe?" sambil membetulkan bantal Mak Aisyah. "Nyang keuh hai neuk, si Hasan hana ie tupu peu betoi bantai lon siat, saket tat ka kudok lon" Mak Aisyah mengadu tentang Hasan, anak lelakinya yang paling muda, berumur kira-kira 22 tahun. "Biasa mak, aneuk agam, paneu tat ie pereumeun" jawab Kk Is.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Nan Lon Lina Sundana!