Sesak? (mungkin)
oleh: lina sundana
Kau tahu Jumat? Aku melewatkan waktumu di warung bakso.
Lagi-lagi aku tak tega pada Diana. Diana yang menjemputku. Dia sangat ingin
menyantap bakso lima ribu di kawasan rukoh itu. Aku mengiyakan saja semua
maunya. Aku memerhatikan suasana di jalanan, tak begitu sepi dan tak begitu
ramai. Kami melewati mesjid di mana Diana mengajar TPA di sana, padat sekali,
tampak pula penjual es krim sedang mengemasi
gerobaknya, memastikan segalanya terkunci, takut-takut ada yang berniat jahat saat
melaksanakan solat nanti. Entah mengapa, Diana sangat pelan mengendarai kereta,
tapi tak apa, aku dapat mengamati setiap celah dan merenung beberapa saat.
Merenung, berpikirlah tidak pada umumnya linaku
Jumat, maafkan kami.
Diana bertanya pada wanita gembul denga kulit
coklat pekat, "Ada bakso Bu?" tanya Diana.
"waktu solat dek" jawab wanita itu.
"bungkus aja kak" Diana sedikit merayu
"bentar ya dek" wanita itu luluh.
Aku duduk di kursi plastik, menunggu Diana yang
bolak-balik di depanku, seperti dia saja penjualnya. Diana.. diana.. Ia ikut
membantu kakak penjual memasukkan saos, kecap cabe, cuka ke dalam platik dan
mengikatnya. Dia benar-benar tidak sabar, atau memang sednag ingin membantu,
entahlah. Aku tak sanggup berdiri, aku hanya memerhatikannya dari tempat duduk.
Lagi.. lagi.. aku tertangkap basah mengamati sepasang wanita ketat. Ya... itu
sebutanku untuk mereka. Mataku berhasil mendeteksi ada yang "sesak".
Kaki dan paha wanita itu sangat "sesak". Ia memakai sepatu tinggi
kira-kira tujuh cm. kakinya yang besar sangat tidak sesuai dengan ukuran
sepatunya, kurasa saat pulang nanti kakinya memerah. Kurasa!
0 komentar:
Posting Komentar