Sial! Darah lagi

Sial! Darah lagi
23 November 2013

Kota Banda Raya berdebu sore hari. Beberapa bercak merah menempel di dinding rumah. Baru saja terjadi pembunuhan, sepertinya. Aku mendengar Laila menjerit dari dalam rumah. Apa yang terjadi? Suara pukulan terjadi beberapa kali. Tampak lelaki tua keluar dari rumah itu membawa sebatang besi bercecer darah dengan wajah sangar dan tanpa baju. Tangisan Laila semakin menjadi-jadi.

Langit ikut bertanya dengan beberapa dentuman, tangisan laila kini diwakili oleh langit, Perlahan langit menangis. Bercak merah di dinding rumah itu mulai terhapus oleh air mata sang langit. Kota kembali sepi. Kendaraan di jalanan banyak yang menepi di bawah emperan toko-toko. Laila terduduk di ambang pintu. Wajahnya yang putih mungil terdiam menatap langit yang pekat.

Aroma bangkai semakin menyeruak tersebar di udara.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Nan Lon Lina Sundana!